fbpx

TENTANG ATSEA

Wilayah Laut Arafura dan Laut Timor (Arafura and Timor Seas atau ATS) memiliki ekologi, geografi, dan struktur sosial politik yang unik.

Berada di wilayah Australia, Indonesia, Papua Nugini dan Tmor Leste, koridor perairan tropis yang subur ini melintasi Ekosistem Laut Besar (Large Marine Ecosystem atau LME) Landas Australia Utara, menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dengan Segitiga Karang.

Wilayah ini menyediakan sumber daya penting bagi penduduk banyak negara dan juga mengisi laut dunia dengan keanekaragaman hayati.

KAYA AKAN SUMBER DAYA

Wilayah ATS adalah rumah bagi banyak keajaiban-keajaiban alam:

  • 160 jenis karang
  • 350 jenis ikan karang
  • 25% dari hutan bakau dunia
  • 45 jenis pohon bakau
  • 15 jenis padang lamun
  • Penyu, dugong, hiu dan pari
  • Koloni bersarang berbagai burung pantai dan burung laut

Selain itu, ATS juga kaya akan sumber daya alam tak hidup,seperti cadangan minyak bumi dan gas bumi.

DI BAWAH ANCAMAN

Banyak dari kehidupan laut di ATS berada di bawah ancaman penangkapan ikan berlebih, hilangnya habitat dan dampak dari perubahan iklim, atau kombinasi ketiganya. Hal tersebut menekankan pentingnya aksi regional yang dilakukan secara kolektif, dan pengelolaan lintas batas terhadap jenis ikan yang penting secara ekonomi, habitat yang sudah kritis, dan megafauna laut.

5 ISU LINGKUNGAN UTAMA YANG MENJADI PERHATIAN

Melalui serangkaian konsultasi nasional dan regional selama fase pertama Program ATSEA (ATSEA-1), kami telah mengidentifikasi lima isu lingkungan utama yang menjadi perhatian:

1

PENANGKAPAN IKAN YANG TIDAK BERKELANJUTAN

Penurunan sumber daya pesisir secara dramatis disebabkan oleh penangkapan ikan yang dilakukan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak sesuai aturan (Illegal, Unreported and Unregulated atau IUU). Digabungkan dengan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan tangkapan sampingan atau bycatch, isu ini menguras sumber daya wilayah ATS lebih cepat dari kemampuannya untuk pulih secara alami.
2

PENURUNAN HABITAT

Ekspansi industri memiliki dampak besar dalam ekosistem ATS, dan penebangan hutan bakau untuk kayu bakar mempercepat kerusakan habitat-habitat pesisir yang vital.
3

POLUSI

Baik dari darat dan laut, wilayah ATS tercekik oleh polusi dari sampah manusia, sedimen, dan tumpahan minyak. Pembangunan pesisir di wilayah ini telah menyebabkan peningkatan aliran permukaan sedimen ke laut, bersamaan dengan degradasi lahan dan limbah racun dari kegiatan pertambangan.
4

HILANGNYA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Kombinasi dampak dari penangkapan yang tidak berkelanjutan, bycatch, hilangnya habitat, dan perubahan iklim telah menyebabkan turunnya – dan dalam beberapa kasus hilangnya –keanekaragaman hayati, termasuk beberapa spesies kunci.
5

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

Kerusakan yang saat ini berlangsung di wilayah ATS merupakan hasil dari konsumsi global energi fosil, penggunaaan lahan yang tidak sesuai aturan, dan pengelolaan kehutanan yang tidak berkelanjutan dalam skala global.

Tindakan mendesak harus dilakukan jika kita ingin mengubah tren yang merusak ini dan memastikan semua sumber daya hidup maupun tak hidup di wilayah ATS dikelola secara berkelanjutan.

FAKTA TENTANG ATSEA

Didanai oleh Global Environment Facility (GEF)

Diimplementasikan oleh United Nations Development Programme (UNDP)

Diluncurkan pada tahun 2010 untuk mengelola sumberdaya Perairan Arafura dan Timor yang melimpah.

Bertujuan untuk mengatasi lima isu lingkungan utama

Mendukung para pemangku kepentingan yang bergantung pada wilayah ATS untuk mata pencaharian mereka, melalui inisiatif-inisiatif pembangunan yang berkelanjutan.

ATSEA-1

Pada tahun 2006, Forum Ahli Laut Arafura dan Laut Timor atau Arafura and Timor Seas Expert Forum (ATSEF) menyusun dan menyerahkan penawaran kepada GEF, yang kemudian dikenal dengan Program Arafura dan Timor Seas Ecosytem (ATSEA). Program ini disetujui pada tahun 2007.

Fase awal Program ATSEA secara resmi diluncurkan padatahun 2010, yang melahirkan forum muti nasional antar pemerintah yang terdiri dair para pemimpin lokal, perwakilan pemerintah regional, para ahli, dan pegiat konseervasi. Forum ini bertugas untuk menciptakan solusi berkelanjutan bagi berbagai persoalan yang mempengaruhi pesisir dan sumber daya laut di wilayah tersebut.

ATSEA-1 mencapai hasil sebagai berikut:

Penyelesaian Analisis Diagnostik Lintas Batas (ADLB)

Pengembangan Program Aksi Strategis (PAS)

Implementasi proyek percontohan yang inovatif.

Dengan menciptakan forum awal, merumuskan dan mengimplementasikan PAS regional dan kemudian memastikan adopsi antar pemerintah, fase pertama dari ATSEA meletakkan dasar yang penting untuk proyek ini; sebuah landasan yang digunakan untuk membangun fase kedua.

ATSEA-2

Pengulangan kedua dari Program ATSEA telah diadaptasikan untuk membawa kolaborasi regional dan koordinasi di wilayah ATS selangkah lebih maju. Hal ini akan dicapai melalui pengesahan dan implementasi visi 10 tahun Laut Arafura dan Laut Timor, yang dikenal dengan Program Aksi Strategis (PAS).

Program ATSEA-2 terdiri dari tiga komponen utama.

Komponen 1: Tata Kelola Regional, Nasional dan Lokal untuk Pengelolaan Ekosistem Laut Besar (ELB)

Komponen 2: Meningkatkan Daya Dukung ELB untuk Mempertahankan Ketersediaan, Pengaturan, dan Dukungan terhadap Jasa Ekosistem.

Komponen 3: Manajemen Pengetahuan

Gabungan keluaran yang diharapkan dari Program ATSEA adalah:

Mekanisme tata kelola regional yang berfungsi, didukung oleh forum kemitraan pemangku kepentingan (FKPK) dan komite interkementerian nasional.

Sekitar 125 km wilayah dari garis pesisir dikelola dengan prinsip Pengelolaan Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Mangement atau ICM).

Adaptasi perubahan iklim, diversifikasi mata pencaharian,   dan perbaikan ketahanan masyarakat pesisir setempat.

Hingga 25% wilayah dengan status perikanan ekploitasi berlebih di wilayah ATS dikembalikan pada level yang lebih berkelanjutan.

Meningkatkan pengetahuan ilmiah tentang dampak perubahan iklim terhadap ATS

Meningkatkan pengelolaan perikanan kakap merah, baramundi dan udang.

Mendukung pembentukan dari Kawasan Konsevasi Perairan (KKP) baru dan menperkuat efektivitas pengelolaan KKP

Jejaring regional KKP dan rencana aksi untuk perlindungan penyu yang lebih baik.

Tersedianya mekanisme finansial untuk mendukung implementasi.

Memasukkan sistem dan prosedur untuk merespon tumpahan minyak.

Temukan bagaimana tiap komponen ATSEA-2 bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di wilayah ATS

SEARCH